KEPRIBADIAN MANUSIA
MAKALAH
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Pengantar Psikologi
Dosen Pembimbing:
Umar Ainur Rahib.M.Pd.I
Disusun oleh:
Izzatul Asiroh
Slamet Fitriah
Zainul Hasan
PRODI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM SYARIFUDDIN (STAIS)
WONOREJO – LUMAJANG
2014
KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kami
kemudahan sehingga dapat menyelesaikan makalah ini. Tanpa pertolongan-Nya
mungkin penyusun tidak akan sanggup menyelesaikannya dengan baik. Shalawat dan
salam semoga terlimpah curahkan kepada baginda tercinta kita yakni Nabi
Muhammad SAW.
Makalah ini disusun agar pembaca dapat memperluas
ilmu tentang "Kepribadian Manusia", yang kami sajikan berdasarkan pengamatan
dari berbagai sumber. Makalah ini di susun oleh penyusun dengan berbagai rintangan.
Baik itu yang datang dari diri penyusun maupun yang datang dari luar. Namun
dengan penuh kesabaran dan terutama pertolongan dari Allah SWT akhirnya makalah
ini dapat terselesaikan.
Penyusun juga mengucapkan terima kasih kepada
Bapak Dosen yang telah membimbing penyusun agar dapat mengerti tentang
bagaimana cara menyusun karya tulis ilmiah yang baik dan sesuai kaidah.
Semoga makalah ini dapat memberikan pengetahuan
yang lebih luas kepada pembaca. Walaupun makalah ini memiliki kelebihan dan
kekurangan. Penyusun membutuhkan kritik dan saran dari pembaca yang membangun.
Terima kasih.
Lumajang,26
April 2014
Penyusun
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR................................................................................ i
DAFTAR ISI................................................................................................ ii
BAB
I PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah.................................................................... 1
B.
Rumusan Masalah..........................................................................
1
C.
Tujuan Pembahasan.......................................................................
1
BAB
II PEMBAHASAN
A. Pengertian
Kepribadian Manusia....................................................... 2
B. Faktor-faktor Yang
Membentuk Kepribadian Manusia.................... 4
C. Teori-teori Tentang Kepribadian Manusia......................................... 6
BAB
III PENUTUP
A.
Kesimpulan................................................................................. ... 12
B.
Saran........................................................................................... ... 12
DAFTAR PUSTAKA................................................................................. 13
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Orang islam belum tentu
berkepribadian muslim. Kepribadian muslim adalah seperti digambarkan oleh
Al-qur’an tentang tujuan dikirimkan Rasulullah Muhammad saw kepada umatnya,
yait menjadi rahmat bagi sekalian alam.
Maka, seseorang yang telah mengaku muslim
seharusnya memiliki kepribadian sebagai sosok yang selalu dapat member rahmat
dan kebahagiaan kepada siapa dan apapun di lingkunagnnya. Taat dalam mejalankan
ajaran agama, tawadhu, suka membantu, memiliki sifat kasih sayang tidak suka
menipu, tidak suka mengambi hak orang lain, tidak suka mengganggu dan tidak
suka menyakiti orang lain.
Persepsi (gambaran) masyarakat tentang
pribadi muslim memang berbeda-beda. Bahkan banyak yang pemahamannya sempit
sehingga seolah-olah pribadi muslim itu tercermin pada orang yang hanya rajin
menjalankan Islam dari aspek ubudiyah. Padahal itu hanyalah satu aspek saja dan
masih banyak aspek lain yang harus melekat pada pribadi seorang muslim. Oleh
karena itu standar pribadi muslim yang berdasarkan Al Qur’an dan Sunnah
merupakan sesuatu yang harus dirumuskan, sehingga dapat menjadi
acuan bagi pembentukan pribadi muslim.
B. Rumusan
Masalah
1.
Apa pengertian kepribadian manusia ?
2.
Apa
saja faktor-faktor yang membentuk kepribadian manusia ?
3.
Apa saja
teori-teori tentang kepribadian kepribadian manusia ?
C. Tujuan
4.
Agar
dapat mengetahui pengertian kepribadian manusia ?
5.
Agar
dapat mengetahui faktor-faktor yang membentuk kepribadian manusia ?
6.
Agar
dapat mengetahui tentang kepribadian kepribadian manusia ?
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Kepribadian Manusia
Kepribadian berasal dari
kata “pribadi” yang berarti diri sendiri, atau perseorangan. Sedangkan dalam
bahasa inggris digunakan istilah personality, yang berarti kumpulan kualitas
jasmani, rohani, dan susila yang membedakan seseorang dengan orang lain.
Menurut
Allport, kepribadian adalah organisasi sistem jiwa raga yang dinamis dalam diri
individu yang menentukan penyesuaian dirinya yang unik terhadap lingkungannya.[1]
Carl
Gustav Jung mengatakan, bahwa kepribadian merupakan wujud pernyataan kejiwaan
yang ditampilkan seseorang dalam kehidupannya.[2]
Pada dasarnya kepribadian bukan terjadi
secara serta merta akan tetapi terbentuk melalui proses kehidupan yang panjang.
Oleh karena itu banyak faktor yang ikut ambil bagian dalam membentuk
kepribadian manusia tersebut.. dengan demikian apakah kepribadian seseorang itu
baik, buruk, kuat, lemah, beradap atau biadap sepenuhnya ditentukan oleh faktor
yang mempenggaruhi dalam pengalaman hidup seseorang tersebut. Dalam hal ini
pendidikan sangat besar penanamannya untuk membentuk kepribadian manusia itu.[3]
Kepribadian secara utuh hanya mungkin
dibentuk melalui pengaruh lingkungan, khususnya pendidikan. Adapun sasaran yang
dituju dalam pembentukan kepribadian ini adalah kepribadian yang dimiliki
akhlak yang mulia. Tingkat kemuliaan akhlak erat kaitannya dengan tingkat
keimanan. Sebab Nabi mengemukakan “ Orang mukmin yang paling sempurna imannya
adalah orang mukmin yang paling baik akhlaknya.
Seseorang yang islam
disebut muslim. Muslim adalah orang atau seseorang yang menyerahkan dirinya
secara sungguh – sungguh kepada Allah. Jadi, dapat dijelaskan bahwa “wujud pribadi
muslim” itu adalah manusia yang mengabdikan dirinya kepada Allah, tunduk dan
patuh serta ikhlas dalam amal perbuatannya, karena iman kepada-Nya. Pola
sesorang yang beriman kepada Tuhan, selain berbuat kebajikan yang diperintahkan
adalah membentuk keselarasan dan keterpaduan antara faktor iman, islam dan ikhsan.
Orang yang dapat dengan benar melaksanakan
aktivitas hidupnya seperti mendirikan shalat, menunaikan zakat, orang – orang
yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang – orang yang sabar dalam
kesempitan penderitaan dan peperangan maka mereka disebut sebagai muslim yang
takwa, dan dinyatakan sebagai orang yang benar. Hal ini merupakan pola takwa
sebagai gambaran dari kepribadian yang hendak diwujudkan pada manusia islam.
Apakah pola ini dapat “mewujud” atau “mempribadi” dalam diri seseorang,
sehingga Nampak perbedaannya dengan orang lain, karena takwanya, maka; orang
itu adalah orang yang dikatakan sebagain seseorang yang mempunyai “Kepribadian
Muslim”.
Secara
terminologi kepribadian Islam memiliki arti serangkaian perilaku normatif manusia,
baik sebagai makhluk individu maupun makhluk sosial yang normanya diturunkan
dari ajaran islam dan bersumber dari Al-Quran dan al-Sunnah.[4]
Kepribadian
muslim dalam kontek ini barang kali dapat diartikan sebagai identitas yang
dimiliki seseorang sebagai ciri khas bagi keseluruhan tingkah laku
sebagai muslim, baik yang disampaikan dalam tingkah laku secara lahiriyah
maupun sikap batinnya. Tingkah laku lahiriyah seperti cara berkata-kata, berjalan,
makan, minum, berhadapan dengan orang tua, guru, teman sejawat, sanak famili
dan sebagainya. Sedangkan sikap batin seperti penyabar, ikhlas, tidak sengaja,
dan sikap terpuji yang timbul dari dorongan batin.
Kemudian
ciri khas dari tingkah laku tersebut dapat dipertahankan sebagai kebiasaan yang
tidak dapat dipengaruhi sikap dan tingkah laku orang lain yang bertentangan
dengan sikap yang dimiliki. Ciri khas tersebut hanya
mungkin dapat dipertahankan jika sudah terbentuk sebagai kebiasaan dalam waktu
yang lama. Selain itu sebagai individu setiap muslim memiliki latar
belakang pembawaan yang berbeda-beda. Perbedaan individu ini diharapkan
tidak akan mempengeruhi perbedaan yang akan menjadi kendala dalam pembentukan
kebiasaan ciri khas secara umum.[5]
B. Faktor-faktor Yang Membentuk Kepribadian Manusia
1. Faktor keturunan
Keturunan merujuk pada faktor genetika seorang individu. Tinggi fisik, bentuk wajah,
gender, temperamen, komposisi otot
dan refleks, tingkat energi
dan irama biologis adalah karakteristik yang pada umumnya dianggap, entah sepenuhnya atau
secara substansial, dipengaruhi oleh siapa orang tua dari individu tersebut, yaitu komposisi biologis, psikologis, dan psikologis bawaan dari individu.[6]
Terdapat tiga dasar penelitian yang berbeda yang memberikan sejumlah
kredibilitas terhadap argumen bahwa faktor keturunan memiliki peran penting dalam menentukan kepribadian seseorang. Dasar
pertama berfokus pada penyokong genetis
dari perilaku dan temperamen anak-anak.
Dasar kedua berfokus pada anak-anak kembar yang dipisahkan sejak lahir. Dasar
ketiga meneliti konsistensi kepuasan
kerja dari waktu ke waktu
dan dalam berbagai situasi.
Penelitian terhadap
anak-anak memberikan dukungan yang kuat terhadap pengaruh dari faktor
keturunan. Bukti menunjukkan bahwa sifat-sifat seperti perasaan malu, rasa takut,
dan agresif dapat dikaitkan dengan karakteristik genetis bawaan. Temuan ini
mengemukakan bahwa beberapa sifat kepribadian mungkin dihasilkan dari kode
genetis sama yang memperanguhi faktor-faktor seperti tinggi badan dan warna
rambut.[7]
Para peneliti telah
mempelajari lebih dari 100 pasangan kembar identik yang dipisahkan sejak lahir
dan dibesarkan secara terpisah.[8]
Ternyata peneliti menemukan kesamaan untuk hampir setiap ciri perilaku, ini menandakan bahwa bagian variasi yang signifikan di antara
anak-anak kembar ternyata terkait dengan faktor genetis. Penelitian ini juga
memberi kesan bahwa lingkungan pengasuhan tidak begitu memengaruhi perkembangan kepribadian atau
dengan kata lain, kepribadian dari seorang kembar
identik yang dibesarkan di keluarga yang berbeda ternyata lebih mirip dengan pasangan kembarnya
dibandingkan kepribadian seorang kembar identik dengan saudara-saudara kandungnya yang dibesarkan bersama-sama.
2. Faktor kelompok
Kepribadian seseorang juga dipengaruhi oleh
adanya kelompok manusia lainnya. Hal ini dikarenakan kodrat manusia sebagai
makhluk sosial yang tidak mungkin dapat hidup sendiri. Kelompok manusia pertama
yang memengaruhi kepribadian anak adalah keluarga, tetangga, teman sepermainan,
dan sekolah.
Misalnya
seorang anak kurang diperhatikan oleh keluarganya, anak itu menjadi nakal
karena dirinya tidak dicintai. Ia akan bergabung dengan kelompok yang mempunyai
standar perilaku yang sesuai dengannya. Sebaliknya, anak yang berperilaku baik
akan mengelompokan dirinya dengan anak yang baik juga.
3.
Faktor
kebudayaan
Kebudayaan sangat
berperan dalam membentuk kepribadian seseorang, karena kebudayaan itu dapat
berbentuk norma dalam keluarga, lingkungan, teman dan kelompok sosial. Hal
tersebut dapat membantu manusia dalam membentuk kepribadian dalam
dirinya.Budaya membentuk norma, sikap, dan nilai yang
diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya dan menghasilkan
konsistensi seiring berjalannya waktu sehingga ideologi yang secara intens berakar di suatu kultur mungkin hanya memiliki
sedikit pengaruh pada kultur
yang lain. Misalnya, orang-orang Amerika Utara memiliki semangat
ketekunan, keberhasilan, kompetisi, kebebasan dan etika kerja yang terus
tertanam dalam diri mereka melalui buku, sistem sekolah, keluarga dan teman,
sehingga orang-orang tersebut cenderung ambisius dan agresif bila dibandingkan
dengan individu yang dibesarkan dalam budaya yang
menekankan hidup bersama individu lain, kerja sama, serta memprioritaskan keluarga daripada pekerjaan dan karier.
C.
Teori-teori Tentang Kepribadian Manusia
Ada empat teori kepribadian utama yang satu sama lain tentu
saja berbeda, yakni teori kepribadian psikoanalisis, teori-teori sifat (trait), teori kepribadian
behaviorisme, dan teori psikoligi kognitif.[9]
1. Teori Kepribadian Psikoanalisis
Dalam mencoba mamahami sistem kepribadian
manusia, Freud membangun model kepribadian yang saling berhubungan dan
menimbulkan ketegangan satu sama lain. Konflik dasar dari tiga sistem
kepribadian tersebut menciptakan energi psikis individu. Energi dasar ini
menjadi kebutuhan instink individu yang menuntut pemuasan. Tiga sistem tersebut
adalah id, ego, dan superego.
Id bekerja menggunakan prinsip kesenangan, mencari pemuasan
segera impuls biologis; ego mematuhi prinsip realita, menunda pemuasan sampai
bisa dicapai dengan cara yang diterima masyarakat, dan superego (hati
nurani;suara hati) memiliki standar moral pada individu. Jadi jelaslah bahwa
dalam teori psikoanalisis Freud, ego harus menghadapi konflik antara id ( yang
berisi naluri seksual dan agresif yang selalu minta disalurkan) dan super ego
(yang berisi larangan yang menghambat naluri-naluri itu). Selanjutnya ego masih
harus mempertimbangkan realitas di dunia luar sebelum menampilkan perilaku
tertentu.
Namun, dalam psikoanalisis Carl Gustav Jung, ego bukannya
menghadapi konflik antara id dan superego, melainkan harus mengelola
dorongan-dorongan yang datang dari ketidak sadaran kolektif (yang berisi
naluri-naluri yang diperoleh dari pengalaman masa lalu dari masa generasi yang
lalu) dan ketidaksadaran pribadi yang berisi pengalaman pribadi yang diredam
dalam ketidaksadaran. Berbeda dengan Freud, Jung tidak mendasarkan teorinya
pada dorongan seks.
Bagi erikson, misalnya meskipun ia mengakui adanya id, ego,
dan superego, menurutnya, yang terpenting bukannya dorongan seks dan bukan pula
koflik antara id dan superego. Bagi Erikson, manusia adalah makhluk rasional
yang pikiran, perasaan, dan perilakunya dikendalikan oleh ego. Jadi ego itu
aktif, bukan pasif seperti pada teori freud, dan merupakan unsur utama dari
kepribadian yang lebih banyak dipengarihi oleh faktor sosial daripada dorongan
seksual.
2.
Teori-Teori
Sifat (Trait Theories)
Teori sifat ini dikenal sebagai teori-teori tipe (type
theories) yang menekankan aspek kepribadian yang bersifat relatif stabil atau
menetap. Tepatnya, teori-teori ini menyatakan bahwa manusia memiliki sifat atau
sifat-sifat tertentu, yakni pola kecenderungan untuk bertingkah laku dengan cara
tertentu. Sifat-sifat yang stabil ini menyebabkan manusia bertingkah laku
relatif tetap dari situasi ke situasi.
Allport membedakan antara sifat umum (general trait) dan
kecenderungan pribadi (personal disposition). Sifat umum adalah dimensi sifat
yang dapat membandingkan individu satu sama lainnya. Kecenderungan pribadi
dimaksudkan sebagai pola atau konfigurasi unik sifat-sifat yang ada dalam diri
individu. Dua orang mungkin sama-sama jujur, namun berbeda dalam hal kejujuran
berkaitan dengan sifat lain. Orang pertama, karena peka terhadap perasaan orang
lain, kadang-kadang menceritakan “kebohongan putih” bagi orang ini, kepekaan
sensitivitas adalah lebih tinggi dari kejujuran. Adapun orang orang kedua
menilai kejujuran lebih tinggi, dan mengatakan apa adanya walaupun hal itu
melukai orang lain. Orang mungkin pula memilki sifat yang sama, tetapi dengan
motif berbeda. Seseorang mungkin berhati-hati karena ia takut terhadap pendapat
orang lain, dan orang lain mungkin hati-hati karena mengekspresikan kebutuhannya
untuk mempertahankan keteraturan hidup.
Termasuk dalam teori-teori sifat berikutnya adalah
teori-teori dari Willim Sheldom. Teori Sheldom sering digolongkan sebagai teori
topologi. Meskipun demikian ia sebenarnya menolak pengotakkan menurut tipe ini.
Menurutnya, manusia tidak dapat digolongkan dalam tipe ini atau tipe itu. Akan
tetapi, setidak-tidaknya seseorang memiliki tiga komponen fisik yang berbeda
menurut derajat dan tingkatannya masing-masing. Kombinasi ketiga komponen ini
menimbulkan berbagai kemungkinan tipe fisik yang isebutnya sebagai somatotipe.
Menurut Sheldom ada tiga komponen atau dimensi temperamental
adalah sebagai berikut :
a. Viscerotonia. Individu yang memiliki
nilai viscerotonia yang tinggi, memiliki sifat-sifat, antara lain suka makan
enak, pengejar kenikmatan, tenang toleran, lamban, santai, pandai bergaul.
b. Somatotonia. Individu dengan sifat
somatotonia yang tinggi memiliki sifat-sifat seperti berpetualang dan berani
mengambil resiko yang tinggi, membutuhkan aktivitas fisik yang menantang,
agresif, kurang peka dengan perasaan orang lain, cenderung menguasai dan
membuat gaduh.
c. Cerebretonia. Pribadi yang mempunyai
nilai cerebretonia dikatakan bersifat tertutup dan senang menyendiri, tidak
menyukai keramaian dan takut kepada orang lain, serta memiliki kesadaran diri
yang tinggi. Bila sedang di rundung masalah, Ia memiliki reaksi yang cepat dan
sulit tidur.
3.
Teori
Kepribadian Behaviorisme
Menurut Skinner, individu adalah organisme yang memperoleh
perbendaharaan tingkah lakunya melalui belajar. Dia bukanlah agen penyebab
tingkah laku, melainkan tempat kedudukan atau suatu poin yang faktor-faktor
lingkungan dan bawaan yang khas secara bersama-sama menghasilkan akibat
(tingkah laku) yang khas pula pada individu tersebut.
Bagi Skinner, studi mengenai kepribadian itu ditujukan pada
penemuan pola yang khas dari kaitan antara tingkah laku organisme dan berbagai
konsekuensi yang diperkuatnya.
Selanjutnya, Skinner telah menguraikan sejumlah teknik yang
digunakan untuk mengontrol perilaku. Tekhnik tersebut antara lain adalah
sebagai berikut :
a. Pengekangan
fisik (psycal restraints)
Menurut
skinner, kita mengntrol perilaku melalui pengekangan fisik. Misalnya, beberapa
dari kita menutup mulut untuk menghindari diri dari menertawakan kesalahan
orang lain. Orang kadang-kadang melakukannya dengan bentuk lain, seperti
berjalan menjauhi seseorang yang tealh menghina ita agar tidak kehilangan
kontrol dan menyerang orang tersebut secara fisik.
b. Bantuan
fisik (physical aids)
Kadang-kadang
orang menggunakan obat-obatan untuk mengontrol perilaku yang tidak dinginkan.
Misalnya, pengendara truk meminum obat perangsang agar tidak mengatuk saat
menempuh perjalanan jauh. Bantuan fisik bisa juga digunakan untuk memudahkan
perilaku tertentu, yang bisa dilihat pada orang yang memiliki masalah
penglihatan dengan cara memakai kacamata.
c. Mengubah
kondisi stimulus (changing the stimulus conditions)
Suatu
tekhnik lain adalah mengubah stimulus yang bertanggunggung jawab. Misalnya,
orang yang berkelebihan berat badan menyisihkan sekotak permen dari hadapannya
sehingga dapat mengekang diri sendiri.
d. Memanipulasi
kondisi emosional (manipulating emotional conditions)
Skinner
menyatakan terkadang kita mengadakan perubahan emosional dalam diri kita untuk
mengontrol diri. Misalnya, beberapa orang menggunakan tekhnik meditasi untuk
mengatasi stess.
e. Melakukan
respons-respons lain (performing alternativeresponses)
Menurut
Skinner, kita juga sering menahan diri dari melakukan perilaku yang membawa
hukuman dengan melakukan hal lain. Misalnya, untuk menahan diri agar tidak
menyerang orang yang sangat tidak kita sukai, kita mungkin melakukan tindakan
yang tidak berhubungan dengan pendapat kita tentang mereka.
f. Menguatkan
diri secara positif (positif self-reinforcement)
Salah
satu teknik yang kita gunakan untuk mengendalikan perilaku menurut Skinner,
adalah positive self-reinforcement. Kita menghadiahi diri sendiri atas perilaku
yang patut dihargai. Misalnya, seorang pelajar menghadiahi diri sendiri karena
telah belajar keras dan dapat mengerjakan ujian dengan baik, dengan menonton
film yang bagus.
g. Menghukum
diri sendiri (self punishment)
Akhirnya,
seseorang mengkin menghukum diri sendiri karena gagal mencapai tujuan diri
sendiri. Misalnya, seorang mahasiswa menghukum dirinya sendiri karena gagal
melakukan ujian dengan baik dengan cara menyendiri dan belajar kembali dengan
giat.
4.
Teori
Psikologi Kognitif
Menurut para ahli, teori psikologi kognitif dapat dikatakan
berawal dari pandangan psikologi Gestalt. Mereka berpendapat bahwa dalam
memersepsi lingkungannya, manusia tidak sekadar mengandalkan diri pada apa yang
diterima dari penginderaannya, tetapi masukan dari pengindraan itu, diatur,
saling dihubungkan dan diorganisasikan untuk diberi makna, dan selanjutnya
dijadikan awal dari suatu perilaku.
Pandangan teori kognitif menyatakan bahwa organisasi
kepribadian manusia tidak lain adalah elemen-elemen kesadaran yang satu sama
lain saling terkait dalam lapangan kesadaran (kognisi). Dalam teori ini, unsur
psikis dan fisik tidak dipisahkan lagi, karena keduanya termasuk dalam kognisi
manusia. Bahkan, dengan teori ini dimungkinkan juga faktor-faktor diluar diri
dimasukkan (diwakili) dalam lapangan psikologis atau lapangan kesadaran
seseorang.[10]
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Psikologi merupakan satu disiplin ilmu yang berdiri
sendiri, dan salah satu bidang penting yang terdapat didalamnya adalah bidang
yang mempelajari manusia yang dikenal sebagai psikologi kepribadian. Sama
halnya dengan bidang psikologi yang lain, psikologi kepribadian memberikan
sumbangan yang berharga bagi pemahaman kita tentang manusia melalui kerangka
kerja yang ilmiah, yakni dengan menggunakan konsep-konsep yang mengarah
langsung dan terbuka bagi pengujian empiris serta menggunakan metode yang valid
dan memiliki ketepatan
Peneliti kepribadian berusaha memformulasi
konsep-konsep atau rumusan-rumusan teoretis yang bisa menguraikan dan
menerangkan relasi dari prinsip-prinsip yang diambil dan disatukannya. Dengan
kata lain, semua faktor yang menentukan atau mempengaruhi tingkah laku manusia
merupakan objek penelitian dan pemahaman para ahli psikologi kepribadian.
Konsep-konsep
atau rumusan-rumusan teoritis yang diuraikan dalam buku ini diantaranya adalah
teori kepribadian psikoanalisa menurut Sigmund Freud, teori kepribadian
behaviorisme menurut B.F. dan teori kepribadian humanistik menurut Abraham
Maslow.
B.
Saran
Dalam
makalah ini tentunya ada banyak sekali koreksi dari para pembaca, karena kami
menyadari bahwa makalah ini jauh dari sempurna. Maka dari itu kami mengharapkan
kritik dan saran yang membangun dari para pembaca yang dengan itu semua kami
harapkan makalah ini akan menjadi lebih baik lagi.
DAFTAR PUSTAKA
Ahyadi,Aziz Abdul, 1995,Psikologi
Agama,Bandung: Sinar Baru Algensindo.
Arvey, R. D.; Bouchard, T. J. Genetics, 1994,Twins, and Organizational
Behavior, Greenwich, CT: JAI Press.
Jalaluddin, 2001,Teologi Pendidikan,Jakarta:
Raja Grasindo Persada.
Koeswara,
1991,Teori-Teori Kepribadian,Bandung:Sinar Terbit
Mujib ,Abdul, 2006,Kepribadian dalam
psikologi islam,jakarta: Raja Grafindo Persada.
Robbins,Stephen P. Judge, Timothy A.(2008. Perilaku Organisasi Buku 1,
Jakarta: Salemba Empat.
Said
Usaman,
Jalaluddin, 1994. Filsafat Pendidikan Agama Islam ,Konsep dan Perkembangan Pemikirannya. Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada.
Stein, M.
B.; Jang, K. L.; Livesley, W. J. Heritability of Social Anxiety-Related,2002,Concerns and
Personality Characteristics: A Twin Study, New York: Viking.
Zuhairini et,al 1992. Filsafat Pendidikan Islam.Jakarta: Bumi
Aksara.
http://atpsikologi.blogspot.com/2010/02/teori-teori-kepribadian-ada-empat-teori.html
[6] Robbins,Stephen
P.; Judge, Timothy A. (2008). Perilaku Organisasi Buku 1, Jakarta: Salemba
Empat. Hal.126-127
[7] Stein, M. B.; Jang, K. L.; Livesley, W. J. Heritability of Social
Anxiety-Related Concerns and Personality Characteristics: A Twin Study, New
York: Viking, 2002. hal. 219-224.
[8] Arvey, R. D.; Bouchard, T. J. Genetics, Twins, and Organizational
Behavior, Greenwich, CT: JAI Press, 1994. hal. 65-66.

0 Komentar